Menonton TransTV di selah-selah sinetron kesukaanku suami-suami takut istri. pertama-pertama aku menonton acara itu begitu asyik, tapi lama-lama tambah ngawur. acara ini dibawakan oleh seorang bule yang sudah menjadi identitas baru.
ada hal yang menurut saya harus diluruskan dalam hal membandingkan sesuatu dari masa lalu ke masa sekarang, contoh ada sesi acara disorot tentang makanan yaitu makan “cobra “.
pertama.
menurut kitab orang timur tengah entah itu yahudi, islam, maupun kristen. bahwa tidak memperbolehkan memakan sesuatu seperti ular maupun anjing hitam. tentu ini ada alasan. lucunya adalah kalimat terakhir dari acara ini “bahwa jika memakan binatang itu tentunya akan menjadi seperti binatang itu jua”. proses ini saya beri nama label, pelabelan atas yang kita makan menjadi sesuatu yang kita makan. jika makan anjing kita seperti kelakuan anjing, makan cobra seperti cobra, lalu kalau yang halal seperti kambing kita menjadi seperti kambing, kodok seperti kodok, bahkan telor kita seperti telor. hal ini menurut aku tidak proposisi yang disampaikan bule ini. membandingkan halal dan haram menjadi prilaku manusia. orang korupsi apakah dia makan yang halal atau haram. mungkin kita koreksi lagi pelabelan atas makanan.
1. pola makanan atas haram atau halal berdasarkan agama adalah sebuah kewajiban. tapi menyimpulkan kita makan cobra menjadi ganas adalah tindakan menurut saya adalah kesalahan. jika halal adalah makan kambing berarti kita sepeti kambing yang sering jarang mandi.
2. tingkat prilaku seseorang didasari tingkat pendidikan, emosional, dan tingkat pemahaman atas ideologi. maksudnya baik menyampaikan hal tentang makanan agar kita menjaga sesuatu yang masuk dari mulut tidak keluar dari mulut lagi, akan tetapi keluar melalui bawah.
kedua.
acara ini terlalu exploitasi dan komersil. karena mengunakan bule. bule jadi beragama, pertanyaan saya kerena ditempatnya tidak mendapat pekerjaan yang bagus dan uang yang banyak pergilah ke indonesia dan mengubah identitas. ok lah Tuhan tidak melihat ini, tapi kelihatan sekali kalau ini hanyalah komersialisasi dari acara. orang Indonesia suka jika ada bule masuk sebuah agama besar. tapi ingat bule itu butuh pekerjaan kan. caranya merubah identitas menjadi masyarakat merasa terhanyut dalam mimpi-mimpi sorga.
ketiga.
pendiktean terhadap politik makanan. makanan haram dan halal menurut versi kitab menjadikan penudingan atas prilaku, jika makan cobra, kambing, jangkrik dan sebagainya adalah proses label lalu kepada proses pendiktean makanan alangkah tidak sebanding. kenapa tidak makan buah-buah atau sayuran saja. karena hewani bisa membangkitkan butir - butir panas dalam darah. seperti apa yang dilakukan oleh agama budha.
rahasia sunnah yang tidak sunnah lagi karena prinsifnya adalah komersialisasi atas agama, labeling atas makanan terhadap kemanusian serta pendikteaan atas kehidupan.