Posts Feed
Comments Feed

Archive for December, 2007

Praktek Komunikasi Data Plus buat Antena

Jurusan Teknik Perangkat Lunak praktek Komunikasi Data.  masing- masing kelompok mengunakan antena wajan yang bisa mereka rakit sendiri. konsep ini saya gunakan untuk pendekatan holistik, mahasiswa praktek dan belajar, sehingga konsep - konsep komunikasi data langsung mereka pahami.

291220071411.jpg

29122007142.jpg

29122007144.jpg

29122007145.jpg

No Comments »

invasi bahasa jakarta dalam lingkungan orang Dayak

elo dimane sekarang. gua tunggu - tunggu lho. begitu sekelumit yang terdengar dari pembicaraan. agak aneh ya. hidup dan diam di daerah yang mayoritas Dayak. namun bahasa dan adatnya adalah jakarta. invasi ini tentunya dari media teknologi. sinetron yang ditayangkan televisi memiliki sumbangan terbesar dalam menginvasi budaya oral masyarakat Dayak.

Dimana kesalahan hal ini. Budaya berbahasa Dayak perlu kita tinjau dari berbagai sisi keilmuan. dari pendapat umum, mengunakan bahasa Dayak berarti seseorang yang dari daerah alias UDIK. padahal bapak, ibu, nenek dan kakeknya di rumah berbahasa Dayak. memang agak aneh, disatu sisi mereka ingin diakui sebagai yang bermartabat dan moderen. di sisi yang lain mereka memiliki keluarga yang sangat menjunjung keDayakannya.

Akan kah Bahasa Dayak itu punah dengan sendirinya. tentu. semakin terinvasi dengan budaya-budaya televisi. maka semakin kita akan kehilangan setiap butir-butir kata dalam bahasa Dayak. menyedihkan benar jika ini terjadi.

No Comments »

UNPAR dan Profesor

Universitas Palangka Raya dalam kaltengpos sebuah koran harian lokal yang direlease akan mendapatkan lagi guru besar, tentu ini adalah langkah positif. Sebuah peningkatan kapasitas dan karakteristik Universitas Palangka raya sebagai pencetak sumber daya manusia dan pengetahuan di Kalimantan Tengah. Ini adalah bentuk penghargaan / prestasi yang membanggakan. Namun sejalan dengan hal ini, yang menarik di simak adalah bahwa kegurubesaran bukanlah sebuah gelar. Kerancuan ini mengundang pertanyaan besar.

Guru Besar dalam aturan main dunia pendidikan adalah sebuah jabatan fungsional, fungsinya berbeda dengan gelar seperti dokter, doktor yang melekat kepada pemegangnya selama dikehendaki. Dengan persyaratan kualifikasi dan tanggung jawab sebagai pengajar. Jika di lihat dari bukti otensit ijasah untuk S1, S2 dan S3 maka dicantumkan kalimat gelar ini melekat kepada pemiliknya, sedangkan kegurubesaran tidak disebutkan sebagai kepemilikan individual yang melekat.

Berarti, sewaktu pemangku jabatan kegurubesaran tidak melaksanakan tugasnya lagi sebagai bentuk tanggungjawab kegurubesarannya dalam hal ini jabatan fungsionalnya sebagai pendidik di sebuah instansi pendidikan. Atau beralih kepada pekerjaan lain, fungsi kegurubesaran bisa ditiadakan dengan sendirinya, atau dalam pengertian sederhananya sang bersangkutan tidak memakai kata “profesor”. Di depan namanya, karena bukan gelar yang dipertahankan sebagai egosisme individualistik.

Sering saya temukan persepsi yang salah dalam masyarakat mendengar kata profesor di depan nama seseorangan. Imprint dalam memori masyarakat mendengar kata profesor adalah gelar paling tinggi di atas doktor dan sangat cerdas dalam sebuah bidang keilmuan. Kerancuan ini sangatlah sederhana, namun memiliki dampak yang signifikan. Menyamakan fungsi kegurubesaran dengan sebuah fungsi gelar adalah kerancuan fungsi. Kerancuan sebuah fungsi jabatan akademik. Profesor atau kegurubesaran adalah jabatan akademik tertinggi dalam lembaga pendidikan tinggi. Jika tidak menjabat lagi maka secara otomatis kata “profesor” akan hilang dengan sendirinya. Kecuali yang bersangkutan mendapat kehormatan menjadi guru besar emeritus sebagai bentuk gelar kehormatan.

Membaca reputasi guru besar tentunya tidak susah. Pertama, Aspek kompetensi ilmiah. Iya harus memiliki standar internasional yang jelas. Dan memiliki rekam jejak penelitian yang konprehensi yang terukur. Memiliki sumbangan pengetahuan yang diperhitungkan bagi nasional dengan internasional. Salah satu buktinya pemikirannya menjadi refrensi di daftar – daftar penelitian yang akan dikembangkan. Atau sumbangan pengembangan pendidikan sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai pemangku jabatan akademis. Aspek teladan. Reputasi guru besar dituntut menjadi teladan dalam keilmuan. Dan yang paling penting adalah kepeloporan akademik. Dan Aspek yang ketiga adalah manfaat. Reputasi kegurubesaran terukur dalam manfaatnya dalam mengembangkan fungsi – fungsi keilmuan. Namun menurut saya yang paling susah adalah reputasi kegurubesaran dalam aspek keteladanan yaitu kepeloporan akademik dan keilmuan. Jika kita hidup di hutan rawa gambut, maka reputasi kegurubesaran Universitas Palangka Raya tidak jauh dari misi dan visinya sebagai pengembangannya kepeloporan keilmuan di bidang gambut dan akan ditarik dari berbagai corak-corak keilmuan lainnya sebagai isue sentralnya.

Sebuah kasus menarik, Damang Saililah ternyata adalah seorang pembimbing program doktor untuk antropologi. Beliau adalah seorang guru besar luar biasa hukum adat Dayak Ngaju. Beliau menelorkan 4 Doktor Ahli Dayak Ngaju yang sampai sekarang penelitianyanya menjadi referensi internasional mengenai Suku Dayak. Posisi Damang Saililah sebagai kegurubesaran diangkat karena Universitas yang mengirimkan mahasiswa S3 tersebut. kepeloporan beliau dalam hukum dan budaya Dayak Ngaju tidak lagi dibicarakan. Sejarah menulis Damang Saililah adalah seseorang yang berfungsi jabatan gurubesar luar biasa bagi 4 orang doktor salah satunya DR. hans schaler yang menulis disertasi “Ngaju Religion”. Dengan demikian. Jabatan itu untuk mengisi proses pembimbingan mahasiswa S3 dengan kepeloporan akademik beliau. Dan guru besar tersebut bukan gelar akademik yang akan disandang oleh Damang.

Kerancuan demi kerancuan membawa kepada fungsi yang lain. Di corak sosialpun jika tidak melekat dengan fungsi akademis, maka peran kegurubesaran / profesor harusnya ditiadakan. Jangan sampai fungsi ini menjadi sebuah gelar yang disandang sampai mati baik dalam kartu nama, atau dalam undangan – undangan pernikahan. Atau bekerja di pemerintahan yang tidak ada hubungan dengan proses penelitian, pengabdian masyarakat dan pengajaran. Rancu benar bukan. Profesor bukan sebuah gelar.

No Comments »

Pemulung Source Code Virus Brontok.

bagi saya, memahami prilaku copy paste adalah hal yang tidak aneh di kalangan mahasiswa maupun di kalangan masyarakat khususnya berkecimpung bidang komputer dan digital. Membu atsebuah virus tentunya memiliki strong karakter di algolritma pemrograman, sistem operasi, dan bahasa pemrograman. cara berpikir atau algolritma membentuk baris-baris coding yang nantinya akan di jalankan oleh komputer dengan bantuan sistem operasi. Coba saja cek kedua tampilan virus antara brontok dengan moontok. yang beda hanyalah Kalimatnya saja, sedangkan pembuat virus moontok adalah bagundal alias maling alias pemulung alias rampok. ini dibuat oleh anak setingkat anak sekolah menengah Inilah yang dibilang kreatif. disaat dunia IT yang semakin maju hal seperti ini gampang diketahui sebagai bentuk plagiatisme.

Saya malah malu melihat hal-hal seperti ini. Mengaku karya sendiri.

bron.PNG

mon.PNG

Apakah ini kebanggaan kota palangka, karena berhasilbis amembuat virus. saya pikir tidak. karena ini hanyalah bentuk source code yang dicompiling struktur fungsi dalam virus sama dengan variannya. Link berikut mempejelas fungsi-fungsinya http://www.mail-archive.com/nusantarra@tarra.com/msg00076.html

dan yang semakin menarik adalah ada kalimat  ini “Selain itu pembuat virus mencantumkan nama: –JowoBot#VM Community — “

1 Comment »

Gerakan Tanam Pohon Vs Ilegal Logging

Entah maksudnya apa dari gerakan tanam pohon, hampir semua penjabat dari gubernur, bupati menjadi bagian dalam gerakan tanam pohon di kalteng. semua dihiasi bingkai foto yang menarik dengan cangkul ditangan. Hal ini menarik untuk dilihat.  yang jelas gerakan ini menindaklanjuti pertemuan KTT Global Warming di Bali pada bulan Desember 2007.  Pertanyaan demi pertanyaan terlontarkan. Bagaimana penjabat sedikit saja bedanya dengan penjahat dari kebijakan penebangan kayu dan pengrusakan hutan-hutan Kalimantan.

Jika dahulu peladang berpindah di cap sebagai penyebab pengundulan hutan tentunya itulah rakyat dengan pola bertani tradisional.  Jika dahulu peladang dituduh membakar ladang penyebab dari asap dan kebakaran hutan tentunya itu rakyat yang menjadi sasaran yang bukan pemegang kekuasaan.Kembali ke gerakan tanam pohon alangkah lucu kalau kita lihat, dilakukan di tengah kota, atau lokasi yang tidak ada pohonnya. sedangkan perambah hutan di motori perusahaan HPH mengambil hasil hutan yang tentunya diuntungkan adalah aparat, penjabat dan penguasa, lagi - lagi rakyat hanya bagian dari kesensaraan saja.

Gerakan tanah pohon hanyalah onani saja untuk memuaskan pesanan dari sebuah kebijakan nasional dan internasional. sedangkan kasus ilegal logging dilepaskan begitu saja. Hukum di negara ini berpihak kepada yang memiliki uang. sekali lagi rakyat hanya kebagian bencana, debu, banjir dan penyakit. sungguh semua klimak yang menyakitkan.

Inilah yang nantinya dinilai sebagai pahlawan. pahlawan lingkungan hidup, pahlawan pesanan dari sebuah kebijakan yang timpang. jika ingin menyelamatkan hutan. beri hak rakyat atas penguasaan atas tanah dan adatnya. semua ini sebagai hak ulayat. jika tidak negara dengan aparatnya memberangus semua sumber sumber alam tersebut.

Jika dahulu aku duduk di sungai lamandau, aku masih bisa mendengar cerit uwa-uwa (gibon) dengan suasana embun pagi, sekarang tidak pernah ku dengar lagi, Jika dahulu aku sering bermain di dekat pohon-pohon besar, sekarang sudah rata dengan padang rumput dan rawa. Dayak, Hutan dan Tanah adalah elemen - elemen sentral dalam hidup. elemen hutan adalah bagian dari rupa- rupa hati masyarakat Dayak. Hutan menyimpan semua obat, aneka binatang serta sejuta impian bagi generasi - generasi dayak berikutnya. Hutan rusak berarti merusak hati Dayak. Begitu juga dengan sungai sebagai aliran - aliran darah bagi orang Dayak. hutan, sungai dan tanah rusak berarti musnahlah DAYAK.

No Comments »