Menghitung Dampak Listrik bagi Dunia Pendidikan di Kalteng.
Jul 28th 2007ronnyteguhArtikel
Membicarakan listrik tentunya membicarakan jantung kehidupan sendi-sendi kehidupan manusia. Listrik padam berarti mematikan aktifitas. Tak heran manusia sekarang sangat bergantung dengan listrik. Salah satu sendi yang dipengaruhi oleh Listrik adalah pendidikan. Zaman sudah bergerak. Arus globalisasi tidak biasa di bendung dengan adanya pemahaman lokalitas yang semu atau kurikulum bermuatan local yang berisikan sejarah jaman dahulu. Listrik bagi kehidupan merupakan sebuah kondisi dari keterikatan hidup kita dengan dunia yang sudah bergerak cepat. Alat-alat produksi yang mengunakan listrik sudah tidak terkendali menerobos masuk ke pranata sosial yang terkecil dalam masyarakat. Kita bisa lihat di rumah-rumah benda apa saja yang tidak mengunakan listrik. Dari hal menerangkan rumah yang sederhana hanya untuk anak-anak belajar agar bisa memimpikan masa depan yang baik. Listrik begitu berarti bagi pendidikan.
Mendiskusi listrik bagi kehidupan manusia, membuat sebuah pertanyaan besar dalam benak kita bagaimana dampak yang terjadi bila listrik sering padam. Kita belum pernah melakukan riset/penelitian mengenai dampak kerusakan dari akibat listrik yang sering terganggu ini di Kalimantan Tengah. Namun dari pendidikan yang berbasis Teknologi Informasi dampak ini lumayan mematikan. Dampak antara lain rusaknya peralatan yang mengunakan aliran listrik yang harganya perlu perjuangan pikiran dan waktu untuk mendapatkannya. Proses belajar mengajar sangatlah terganggu. Padamnya listrik tidak hanya menganggu proses dalam lingkungan lokal, namun juga menganggu interkoneksi global antar pendidikan di Kalimantan dan indonesia. Adakah garansi jika peralatan tersebut terbakar oleh listrik yang terganggu. Investasi hancur hanya oleh elemen dari listrik di kalteng terganggu.
Elemen Sumber Daya alam kita berlimpah, salahsatunya batu bara. Sebuah Koran nasional memberitakan kalteng akan mendirikan sebuah pembangkit listrik bertenaga batubara (mudahan-mudahan terwujud). Sebuah berita yang menyenangkan. Kita tidak bergantung lagi dengan minyak “solar” dan pembangkit listrik dari kalsel yang jika musim kemarau sering padam dengan alasan distribusi terganggu. Sumber alam yang berlimpah ini berguna bagi masyarakat Kalteng, Batu bara kita miliki tidak lagi menjadi makanan untuk orang-orang yang memiliki industri besar di eropa maupun asia, sementara kita listrik masih terganggu. Globalisasi menganggu ekonomi lokal. Pengisapan sebuah daerah adalah praktek-praktek yang dari dulu sudah dilakukan oleh bangsa barat untuk membuat suplus negaranya. Cukuplah hasil hutan kita di kuras bertahun-tahun.