Berinvestasi dengan Sistem Open Source pada Database Rakyat
Jun 23rd 2007ronnyteguhe-goverment
Membicarakan investasi di Teknologi Informasi tentunya dalam benak kita pasti mahal, dan pada kenyataan memang mahal yang dibuat-buat. Baik perangkat lunak (software), perangkat keras (hardware) sampai kenapa pengadaan telekomunikasi jejaring (internet). Kasus di salah satu kabupaten di Kalteng, menurut hemat penulis adalah sebuah kesalahan awal pemda dalam berinvestasi dalam bidang teknologi informasi. Ketidaktahuan adalah awal investasi menjadi buruk. Investasi tidak berbasis kebutuhan pemda menjadikan investasi tersebut memiliki nilai proyek yang dimark-up. Membandingkan AKSI nasional dengan SIAK Depdagri.
Jika Pemerintah daerah bijaksana dan berani dalam menghitung biaya investasi yang dikeluarkan oleh PEMDA dalam proyek teknologi informasi untuk pengadaan program SIAK (Sistem Informasi Administrasi Kependudukan) seperti yang terjadi di sebuah kabupaten di Kalteng, tentunya biaya yang dikeluarkan proyek tersebut membuat mata bapak/ibu/saudara di pemerintah maupun di DPRD terperangah menyaksikan biayanya. Penulis mencoba menyajikan data perbandingan antara sistem yang dikelola oleh tim AKSI Nasional dengan SIAK yang diproduksi oleh DDN (Departemen Dalam Negeri).
AKSI Nasional
NO URAIAN HARGA JUMLAH TOTAL
1 APLIKASI Rp - 8 Rp -
2 PELATIHAN Rp 25,000,000 1 Rp 25,000,000
3 INSTALASI Rp 1,000,000 8 Rp 8,000,000
4 AKOMODASI Rp 10,000,000 1 Rp 10,000,000
JUMLAH TOTAL Rp 43,000,000
Biaya yang dikeluarkan oleh SIAK AKSI Nasional untuk jumlah 8 kecamatan. Pada Aplikasi akan dihitung Rp. 0 (NOL) rupiah, karena sistem digratiskan secara nasional dengan semangat Open Source, baik database, sistem operasi sampaikan aplikasi distribusinya. Biaya perangkat keras, sistem ini tidak membutuh perangkat keras yang super mahal, yang diperlukan adalah kapasitas memory dan penyimpanan data dalam kapasitas yang besar. Sekarang bandingkan dengan proyek pengadaan sistem yang dikeluarkan oleh DEPDAGRI.
SIAK DDN
NO URAIAN HARGA JUMLAH TOTAL
1 APLIKASI
Windows 2003 server Rp 6,600,000 8 Rp 52,800,000
Bea Weblogic Rp 30,000,000 8 Rp 240,000,000
Oracle Rp 21,000,000 8 Rp 168,000,000
2 HARDWARE
Server Rp 47,000,000 8 Rp 376,000,000
UPS Rp 3,520,000 8 Rp 28,160,000
3 INSTALASI Rp 2,000,000 8 Rp 16,000,000
JUMLAH TOTAL Rp 828,160,000
SIAK yang dikeluarkan oleh Departemen Dalam Negeri (DDN) sangat mencengangkan nilai proyeknya. Data ini diperoleh dari beberapa kabupaten di Indonesia,. Biaya lisensi yang dikeluarkan oleh perangkat lunak untuk aplikasi SIAK untuk 8 kecamatan saja sudah mencapai ratusan juta, di luar perangkat keras dan perangkat jaringan.
Yang penulis soroti penulis adalah biaya APLIKASI. Di sistem SIAK Aksi Nasional nilai aplikasi adalah nol rupiah. Sedangkan pada aplikasi yang dikembangkan oleh DEPDAGRI dengan asumsi 8 kecamatan sudah mencapai ratusan juta. Sebuah nilai yang fantastis bukan? Tentu beban uang daerah atau APBD lumayan tersedot ke arah sistem ini.
Semoga tulisan ini menjadi pertimbangan bagi pengambil kebijakan dalam menentukan proyek yang berkaitan dengan investasi teknologi informasi. Yang diperlukan sebuah sistem e-goverment adalah kematangan tingkat e-literacy pegawai/SDM, bisnis proses sistem dinas kependudukan. Sejarah komputerisasi data kependudukan dari tahun 1994 yaitu KTP Nasional pernah kita laksanakan dan gagal. Sekarang sistem baru itu adalah SIAK DEPDAGRI. Entah besok tahun depan namanya apa, namun bentuknya tetap sama. Selama investasi daerah kita harus jeli menghitungnya termasuk perawatan, SDM serta back up penyimpanan data base penduduk sepanjang tahun.