MOS/OSPEK Mendidikkah?
Apr 12th 2007ronnyteguhArtikel
DULU, sewaktu penulis menjadi calon mahasiswa sebuah perguruan tinggi, penulis juga pernah dipelonco. Kala itu namanya OSPEK (orientasi pengenalan kampus). Sedangkan di tingkat SMA disebut MOS. Kondisi sekarang mungkin berbeda dengan masa - masa penulis dulu. Caci-maki dan kata kotor keluar dari senior. Belum lagi dijemur karena alasan melakukan kesalahan, ditendang atau juga dipukul. Melawan kakak senior di sekolah akan dihukum ramai-ramai. Saat OSPEK, rambut harus gundul dan memakai baju yang sedikit berbeda dengan kebiasaan. Bagaimana sisi psikologi pendidikan melihat fenomena OSPEK dan MOS itu? Saya melihat tidak ada perbedaan dari zaman saya dulu masih sekolah sampai yang diterapkan oleh adik - adik di perguruan tinggi bahkan sekolah menengah saat ini. Sikap arogan bahwa yang junior harus tunduk kepada senior tetap dipelihara. Penciptaan rasa takut dan pembunuhan karakter dengan ucapan “bodoh”, “dungu”, “pengecut” kerap kali dilontarkan.
Para senior berasumsi bahwa senioritas lebih berkuasa dan lebih tahu dalam urusan kampus dan seluruh seluk -beluk sekolah. Karena itu, memberi penghukuman kepada seseorang yang tak memiliki kesalahan, sudah jamak dilakukan. Benarkan ini sebuah bentuk potret salah satu pendidikan dari hasil tradisi kekerasan?
Atau justru itulah potret pendidikan kita, yang suka main hukum tanpa kejelasan, main caci maki, main pukul, dan banyak hal lainnya yang masih sampai sekarang di pertahankan? Sementara institusi pendidikan dan orang tua seolah - olah membolehkan acara tersebut dengan alasan untuk kebaikan pribadi siswa.
Saya coba ajak pembaca berpikir lagi melihat fenomena ini. Apakah betul OSPEK dan MOS itu tempat orientasi pendidikan karakter. Bisakah kita campur tangan dalam hal ini?
Ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan kita menciptakan 2 karakter secara sistematis yaitu victim to be killer (korban akan menjadi pembunuh). Karakter pertama mereka akan menjadi korban dengan rasa takut, sedangkan karakter kedua setelah menjadi korban, mereka akan menjadi pembunuh generasi di bawahnya. Mereka akan balas dendam terhadap apa yang pernah dilakukan oleh seniornya. Bukti nyata itu juga berlaku setelah mereka bekerja.
MEMBANGUN MOS / OSPEK
Saya bertanya kepada seorang teman di luar negeri terutama di Universitas Sain Malaysia, apakah ada bentuk peloncoan seperti MOS dan Ospek di negeri mereka? Mereka tersenyum sambil berkata: “Kalian orang Indonesia sibuk dengan urusan seperti itu, kami di Malaysia sudah taraf merubah membangun pemikiran dan bagaimana menciptakan manusia sukses,”
Saya hanya tertawa. Kita memang masih sibuk dengan pendidikan orientasi pembodohan masa-masa di mana Orde Baru berkuasa. Lihat saja, baris berbaris, dijemur, dicaci maki, hormat sana hormat sini, harus menerima hukuman tanpa jelas apa kesalahannya, berpakaian bagaikan (maaf) orang gila.
Isi dari acara itu dari tahun ke tahun selalu seperti itu. Konsumsi pengenalan kampus sangat sedikit. Bukti itu akan kelihatan sewaktu mereka mulai masuk kuliah atau sekolah. Rata - rata mereka bingung mengurus bagaimana caranya bertemu dosen pembimbing atau cara belajar yang baik di sekolah. Jadi selama ini masa orientasi apa saja yang diajarkan kepada mereka?
Adakah Solusi yang baik untuk MOS dan OSPEK, bisakah dibuat lebih menarik, mendidik dan membebaskan, adakah isi dari OSPEK dan MOS tersebut berisikan salah satunya pendidikan perubahan mentalitas seperti mentalitas sukses seorang pebisnis? Atau bagaimana menyelesaikan sekolah/kuliah tempat waktu termasuk wawasan wiyata mandala, mengenal program-program sekolah, berbudi pekerti, mengetahui dan mematuhi tata tertib sekolah. Selain itu, juga untuk mengenalkan cara belajar di SMA, ekstrakurikuler, lagu-lagu daerah, dan memperkuat ibadah.
Pertanyaan ini bagi pendidik dan orang tua murid, kenapa MOS dan OSPEK masih dipertahankan untuk program caci maki dan jemur menjemur. Termasuk mempelonco siswa baru. Belum lagi orang tua murid keluar dana untuk membeli peralatan yang akan digunakan untuk kegiatan tersebut. MOS dan OSPEK akan lebih bermanfaat dengan model pendidikan yang masuk akal serta memanusiakan manusia dengan orientasi pendidikan. Kita memiliki kewajiban moral untuk melihat lagi dari kegiatan MOS dan OSPEK, sejauh mana kegunaan bagi siswa. Jika hanya untuk keperluan caci-maki, jemur menjemur, atau berpakaian yang aneh- aneh serta peloncoan yang tidak bermanfaat seharusnya bisa dihentikan sekarang juga. Namun jika itu bisa memperbaiki budi pekerti siswa, mematuhi tata tertib sekolah dan cara mengenal belajar di sekolah, mari kita pertahankan OSPEK. Tentunya kita akan mendukung generasi ini akan lebih baik dari sebelumnya. (*)
*) Praktisi pendidikan







